Mahasiswa UNY Turun Tangan, Gerakan “Sekolah Ramah Tanpa Bullying” Jadi Benteng Baru di Sekolah Dasar

Berbasis data lonjakan kasus perundungan, mahasiswa hadirkan edukasi empati dan gerakan “Bunga Kebaikan” di SDN Kotagede III Yogyakarta

MCI – Yogyakarta, DIY | Upaya menekan maraknya kasus perundungan di lingkungan sekolah dasar terus digencarkan. Kali ini, mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) mengambil peran langsung melalui program “Sekolah Ramah Tanpa Bullying” yang digelar di SDN Kotagede III Yogyakarta, Kamis (16/4/2026).

Program ini diinisiasi oleh mahasiswa S1 Pendidikan Ekonomi angkatan 2024 Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), yakni Asti Ananta, Intan Nurkhasanah, dan Hanifa Luthfi Farhana, di bawah bimbingan Dr. Kiromim Baroroh, S.Pd., M.Pd. Kegiatan ini menjadi bentuk kontribusi nyata dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 16 tentang Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh.

Langkah ini bukan tanpa alasan. Berdasarkan data Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), kasus kekerasan di sekolah melonjak tajam dari 285 kasus pada 2023 menjadi 573 kasus di 2024. Bahkan, data gabungan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan JPPI pada 2025 mencatat sebanyak 26 persen kasus perundungan terjadi di tingkat sekolah dasar.

Menanggapi kondisi tersebut, tim mahasiswa melakukan observasi langsung di lapangan. Hasilnya, ditemukan bahwa perundungan verbal masih sering dianggap sebagai candaan biasa di kalangan siswa. Padahal, jenis perundungan ini menyumbang sekitar 29,3 persen dari total kasus yang ada.

Ketua tim, Asti Ananta, menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk menanamkan nilai empati sejak dini kepada siswa.

“Banyak siswa belum menyadari bahwa candaan tertentu bisa menyakiti temannya. Kami ingin membangun kesadaran sekaligus keberanian untuk saling melindungi,” ujarnya.

Dalam pelaksanaannya, program ini menggunakan pendekatan interaktif dan partisipatif. Mahasiswa tidak hanya memberikan materi secara teoritis, tetapi juga mengajak siswa terlibat langsung melalui metode storytelling. Dengan cara ini, siswa diajak memahami dampak perundungan sekaligus didorong menjadi “upstander”, yaitu individu yang berani membela dan membantu teman yang menjadi korban.

BACA JUGA :  https://mediacitraindonesia.com/penghuni-kos-di-babadan-bantul-ditemukan-tewas-misterius-identitas-korban-masih-diselidiki/

Dosen pembimbing, Dr. Kiromim Baroroh, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan implementasi nyata pembelajaran kontekstual di perguruan tinggi.

“Mahasiswa harus mampu menghadirkan solusi atas persoalan sosial. Program ini menunjukkan bahwa pendidikan dapat berperan aktif menciptakan lingkungan yang aman dan berkeadilan,” ungkapnya.

Sebagai hasil dari program, mahasiswa juga menghadirkan media edukatif bertajuk “Bunga Kebaikan”. Media ini berupa pajangan kelas berisi bunga origami dengan pesan komitmen siswa untuk berkata baik, tidak mengejek, dan saling membantu.

Hanifa Luthfi Farhana menyebutkan, media tersebut diharapkan menjadi pengingat visual bagi siswa dalam kehidupan sehari-hari.

“Melalui Bunga Kebaikan, kami ingin nilai-nilai positif terus diingat dan dipraktikkan oleh siswa,” jelasnya.

Selain mendukung SDGs 16, program ini juga berkontribusi pada SDGs 4 tentang Pendidikan Berkualitas, dengan mendorong terciptanya lingkungan belajar yang aman, inklusif, serta mendukung kesehatan mental peserta didik.

Melalui gerakan ini, mahasiswa UNY membuktikan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah sederhana menanamkan empati sejak usia dini demi menciptakan generasi yang lebih peduli dan berkeadilan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *