MCI – Gunungkidul, DIY | Pengelolaan sampah di kawasan Pantai Sadranan, Kalurahan Sidoharjo, Kapanewon Tepus, Kabupaten Gunungkidul, kembali menjadi sorotan. Tumpukan sampah yang didominasi plastik dan sisa makanan disebut masih kerap menumpuk sebelum dibawa ke Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS).
Kondisi tersebut dikeluhkan sejumlah pedagang di kawasan pantai. Selain menimbulkan bau tak sedap, tumpukan sampah juga disebut mengundang banyak lalat sehingga dikhawatirkan mengganggu kenyamanan pedagang maupun wisatawan.
Salah seorang pedagang di kawasan Pantai Sadranan, Murbani, mengatakan persoalan pengelolaan sampah tersebut telah berlangsung cukup lama. Ia menyebut kondisi serupa terjadi sekitar lima tahun terakhir.
“Sudah sekitar lima tahun ini pengelolaan sampah oleh Pokdarwis tidak dilakukan secara maksimal,” ungkap Murbani.
Menurut dia, para warga dan anggota yang berkaitan dengan kawasan tersebut selama ini telah dikenai iuran pengelolaan sampah sekitar Rp20 ribu hingga Rp30 ribu per bulan. Namun, menurutnya, tumpukan sampah masih kerap terlihat menggunung sebelum akhirnya dibuang ke TPAS.
Kondisi itu kemudian memunculkan pertanyaan dari sejumlah warga mengenai pengelolaan dan transparansi penggunaan dana iuran sampah.
“Jika dihitung-hitung tiap bulan iuran dari anggota Pokdarwis terkumpul hingga jutaan rupiah, tapi peruntukannya tidak jelas. Sampah tetap saja dibiarkan menumpuk,” tegasnya.
Selain persoalan sampah, muncul pula keluhan terkait adanya pungutan terhadap pedagang maupun pelaku usaha yang baru masuk ke kawasan Pantai Sadranan.
Murbani menyebut besaran uang yang diminta disebut berbeda-beda. Ia mengaku mendapat informasi adanya permintaan hingga Rp5 juta kepada tukang foto dan bahkan Rp10 juta kepada pedagang pakaian yang baru akan berjualan.
“Pengurus Pokdarwis juga meminta uang kepada tukang foto maupun pedagang baru. Jumlahnya berbeda-beda. Ada yang Rp5 juta dan infonya penjual pakaian yang baru akan berjualan dimintai Rp10 juta. Uang tersebut digunakan untuk apa, kami anggota Pokdarwis sama sekali tidak mengetahui,” keluhnya.
Pokdarwis: Sampah Rutin Dibuang
Terpisah, Ketua Pokdarwis Pantai Sadranan, Wasdiyo, membantah anggapan bahwa pengelolaan sampah di kawasan tersebut tidak dilakukan secara maksimal.
Ia mengatakan pihaknya tetap melakukan pembuangan sampah yang telah terkumpul. Namun, waktu pengangkutan tidak selalu sama karena menyesuaikan kondisi di lapangan.
“Kita rutin membuang sampah yang sudah menumpuk, tapi memang waktunya yang tidak menentu,” jelas Wasdiyo.
Wasdiyo juga menegaskan bahwa penggunaan uang iuran anggota untuk pengelolaan sampah dilakukan secara transparan. Menurut dia, pengelolaan dan penggunaan dana tersebut selalu disampaikan dalam pertemuan anggota Pokdarwis.
Sementara terkait adanya uang yang diminta kepada pedagang maupun pengusaha baru, Suwandi mengatakan hal tersebut bukan keputusan sepihak pengurus. Menurutnya, persoalan tersebut telah dibahas dan disepakati melalui forum pertemuan Pokdarwis.
“Sebelumnya sudah dimusyawarahkan dan disepakati dalam pertemuan Pokdarwis,” terangnya.
Persoalan tersebut kini menjadi perhatian karena menyangkut kebersihan kawasan wisata Pantai Sadranan sekaligus tata kelola iuran dan kontribusi dari pelaku usaha. Transparansi pengelolaan dana serta kepastian mekanisme pungutan menjadi penting agar tidak menimbulkan persepsi berbeda di tengah anggota maupun pelaku usaha di kawasan wisata tersebut.














