Kirab Dua Pusaka Warnai Memerti Dusun Bolodukuh Lor, Warga Lestarikan Warisan Budaya Jawa

Untuk pertama kalinya, Tombak Kyai Jolo Sutro Mukti dan Tusuk Konde Nyai Jolo Sutro Mukti diarak dalam tradisi Memerti Dusun sebagai simbol pengayoman, ketentraman, dan kelancaran rezeki. Kegiatan ini mendapat apresiasi sebagai upaya nyata memperkuat pelestarian budaya dan keistimewaan Yogyakarta.

MCI – Gunungkidul, DIY | Suasana khidmat dan penuh nuansa budaya menyelimuti Padukuhan Bolodukuh Lor, Kalurahan Sidorejo, Kapanewon Ponjong, Kabupaten Gunungkidul, saat masyarakat menggelar tradisi Memerti Dusun atau bersih desa, Selasa (21/7/2026). Puncak kegiatan tahun ini terasa istimewa karena untuk pertama kalinya dua pusaka, yakni Tombak Kyai Jolo Sutro Mukti dan Tusuk Konde Nyai Jolo Sutro Mukti, dikirab mengelilingi padukuhan sebagai simbol pengayoman, ketentraman, serta harapan akan kelancaran rezeki bagi masyarakat.

Kirab budaya tersebut diikuti hampir seluruh warga Padukuhan Bolodukuh Lor. Dengan mengenakan pakaian adat Jawa, peserta berjalan beriringan membawa pusaka, hasil bumi, serta berbagai perlengkapan adat menuju lokasi prosesi. Setelah kirab selesai, rangkaian acara dilanjutkan dengan doa bersama dan kenduri sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rezeki sekaligus memohon keselamatan bagi seluruh warga.

Dukuh Padukuhan Bolodukuh Lor, Amin Nugroho, mengatakan bahwa pengarakkan dua pusaka tersebut merupakan sejarah baru dalam penyelenggaraan Memerti Dusun di wilayahnya. Menurutnya, keberadaan pusaka tidak hanya menjadi benda peninggalan budaya, tetapi juga sebagai media edukasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda, agar semakin mengenal dan mencintai warisan leluhur.

“Dua pusaka yaitu tombak dan tusuk konde baru kali ini kita arak. Dengan kegiatan seperti ini saya berharap masyarakat mengetahui bagaimana cara melestarikan adat budaya Jawa dan terus menjaga tradisi sebagai bagian dari pelestari budaya,” ujar Amin.

Ia menambahkan, Memerti Dusun bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi juga menjadi momentum mempererat persaudaraan antarwarga. Melalui gotong royong dalam mempersiapkan seluruh rangkaian kegiatan, masyarakat diajak menjaga kekompakan sekaligus mempertahankan nilai-nilai budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Sementara itu, Raden Mas Kukuh Hertriasning, cucu Sri Sultan Hamengkubuwono VIII yang turut hadir dalam kegiatan tersebut, memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif masyarakat Bolodukuh Lor yang berani menghadirkan kirab pusaka sebagai bagian dari tradisi desa.

BACA JUGA :  https://mediacitraindonesia.com/dandim-0730-gunungkidul-hadiri-pelantikan-pengurus-dppi-2026-2030-perkuat-semangat-pancasila-di-kalangan-generasi-muda/

Menurutnya, pengarakkan Tombak Kyai Jolo Sutro Mukti dan Tusuk Konde Nyai Jolo Sutro Mukti memiliki makna filosofis yang mendalam. Kedua pusaka tersebut menjadi simbol pengayoman, ketentraman, keharmonisan, sekaligus harapan akan kemakmuran bagi masyarakat.

“Ini adalah satu-satunya kegiatan di tingkat padukuhan di wilayah Gunungkidul, bahkan DIY pada umumnya, yang menjadikan pusaka sebagai bagian dari penguatan peradaban sejarah,” katanya.

Ia berharap langkah yang dilakukan masyarakat Bolodukuh Lor dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk terus melestarikan adat istiadat, menguri-uri pusaka, serta menjaga nilai-nilai budaya lokal sebagai bagian dari identitas bangsa.

“Ini merupakan bentuk penguatan keistimewaan Yogyakarta dalam hal tosan aji maupun simbol-simbol religius dan ritual budaya. Semoga daerah lain juga ikut melestarikan budaya yang dimiliki,” pungkasnya.

Tradisi Memerti Dusun di Bolodukuh Lor tahun ini tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya, tetapi juga memperlihatkan tingginya semangat kebersamaan masyarakat. Antusiasme warga dari berbagai kalangan menunjukkan bahwa adat dan tradisi masih memiliki tempat penting di tengah perkembangan zaman.

Melalui kirab dua pusaka yang baru pertama kali dilaksanakan tersebut, masyarakat berharap nilai-nilai luhur warisan leluhur tetap hidup, terus diwariskan kepada generasi penerus, serta menjadi kekuatan dalam menjaga jati diri budaya Jawa dan memperkokoh keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *