Universitas Telkom Implementasikan Teknologi IoT untuk Monitoring Kelembapan Tanah di Desa Lengkong Bandung

Sistem Pemantauan Berbasis Sensor dan Dashboard Real-Time Dukung Pertanian Modern, Efisien, dan Berkelanjutan

MCI – Bandung, Jabar | Universitas Telkom melalui Tim Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Informatika mengimplementasikan teknologi Internet of Things (IoT) untuk monitoring kelembapan tanah di area pertanian dan perkebunan Desa Lengkong, Kabupaten Bandung, Sabtu (13/6/2026). Program ini menjadi langkah nyata dalam mendorong transformasi pertanian tradisional menuju pertanian berbasis teknologi yang lebih modern, efisien, dan berkelanjutan.

Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Telkom, Dr. Sutiyo, S.T., M.Eng., mengatakan kegiatan tersebut bertujuan memperkenalkan sekaligus mengimplementasikan teknologi digital yang dapat membantu masyarakat, khususnya petani dan pengelola lahan, dalam memantau kondisi tanah secara lebih akurat dan real-time.

Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Telkom bersama perangkat Desa Lengkong dan peserta kegiatan saat pelaksanaan implementasi teknologi IoT untuk monitoring kelembapan tanah.

“Kami ingin meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap pemanfaatan teknologi digital yang dapat mendukung efisiensi pengelolaan lahan serta keberlanjutan sektor pertanian. Dengan data yang diperoleh secara real-time, petani dapat mengambil keputusan yang lebih tepat dalam pengelolaan lahannya,” ujar Dr. Sutiyo.

Menurutnya, kelembapan tanah merupakan salah satu faktor utama yang menentukan pertumbuhan dan produktivitas tanaman. Selama ini, pemantauan kondisi tanah umumnya masih dilakukan secara manual. Melalui teknologi IoT, data kelembapan tanah dapat dipantau setiap saat sehingga kebutuhan penyiraman maupun pengelolaan lahan dapat dilakukan secara lebih efektif.

Desa Lengkong dipilih sebagai lokasi kegiatan karena masih memiliki lahan pertanian dan perkebunan produktif di tengah pesatnya perkembangan kawasan perkotaan. Kondisi tersebut menghadirkan tantangan sekaligus peluang untuk menerapkan inovasi teknologi yang mampu menjaga produktivitas lahan di tengah keterbatasan ruang pertanian.

Program ini merupakan hasil kolaborasi antara Tim Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Informatika Universitas Telkom, Pemerintah Desa Lengkong, pengelola lahan pertanian dan perkebunan, serta mahasiswa yang turut berpartisipasi dalam proses implementasi teknologi, pelatihan, dan pendampingan di lapangan.

Proses pemasangan dan pengujian perangkat sensor IoT di lahan pertanian Desa Lengkong yang digunakan untuk mengukur kelembapan tanah, pH, dan suhu lingkungan.

Dalam pelaksanaannya, sistem monitoring yang dibangun terdiri dari Sensor Module, Edge Device, Hybrid Communication Network (Wi-Fi dan jaringan seluler), serta DIMS (Real-time Monitoring of Distributed IoT Sensors). Sensor yang dipasang di lahan mampu mengukur kelembapan tanah, tingkat keasaman (pH), dan suhu lingkungan secara berkala.

Data hasil pengukuran kemudian diproses oleh Edge Device sebelum dikirim melalui Hybrid Communication Network yang menyesuaikan kondisi konektivitas di lapangan. Selanjutnya, seluruh data ditampilkan pada dashboard DIMS yang dapat diakses secara real-time melalui komputer maupun telepon genggam.

Kepala Desa Lengkong, H. Agus Salam Rahmat, S.Pd., mengapresiasi pelaksanaan program pengabdian masyarakat yang dilakukan Universitas Telkom di wilayahnya. Menurutnya, penerapan teknologi digital di sektor pertanian menjadi langkah positif dalam mendukung peningkatan produktivitas petani sekaligus mendorong kemajuan desa.

“Kami mengapresiasi Universitas Telkom yang telah menghadirkan inovasi teknologi bagi masyarakat Desa Lengkong. Program ini tidak hanya memberikan pengetahuan baru, tetapi juga menghadirkan solusi nyata yang dapat membantu petani meningkatkan efektivitas pengelolaan lahan. Kami berharap kerja sama seperti ini dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” ujarnya.

Dengan sistem tersebut, petani tidak lagi harus mengandalkan perkiraan semata dalam mengelola lahannya. Informasi yang tersaji secara langsung membantu menentukan waktu penyiraman, kebutuhan air tanaman, hingga pengambilan keputusan budidaya yang lebih tepat berdasarkan data.

Petani Desa Lengkong mengikuti pelatihan penggunaan aplikasi monitoring dan melihat data kondisi lahan secara real-time melalui telepon genggam.

Manfaat program tersebut turut dirasakan oleh para petani setempat. Salah satunya Bapak Opik, petani Desa Lengkong, yang mengaku selama ini pemantauan kondisi lahan masih dilakukan secara tradisional berdasarkan pengalaman dan pengamatan langsung.

“Kalau dulu kami melihat kondisi tanah secara langsung untuk mengetahui kapan harus menyiram atau bagaimana keadaan lahan. Semua masih dilakukan secara tradisional,” ungkapnya.

Ia menilai teknologi yang diperkenalkan Universitas Telkom sangat membantu karena memberikan informasi kondisi lahan secara cepat dan mudah diakses melalui aplikasi.

“Untuk alatnya sendiri cukup mudah digunakan karena menggunakan aplikasi. Jadi kami bisa melihat kondisi tanah melalui handphone tanpa harus selalu datang ke lokasi untuk mengecek secara langsung,” katanya.

Bapak Opik berharap teknologi tersebut tidak berhenti pada tahap pengenalan saja, tetapi dapat terus dikembangkan dan dimanfaatkan lebih luas oleh masyarakat.

“Harapannya teknologi ini sangat bermanfaat bagi petani dan bisa terus dikembangkan ke depannya. Semoga semakin banyak masyarakat yang dapat memanfaatkan teknologi seperti ini untuk mendukung kegiatan pertanian,” tambahnya.

Baca juga :  https://mediacitraindonesia.com/universitas-telkom-terapkan-iot-di-desa-wareng-petani-kini-bisa-pantau-kondisi-tanah-secara-real-time/

Meski berjalan lancar dan mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Desa Lengkong serta masyarakat setempat, tim pelaksana mengakui terdapat sejumlah tantangan selama kegiatan berlangsung. Salah satunya adalah menentukan lokasi yang representatif untuk pemasangan perangkat dan pengambilan data lapangan. Seiring berkembangnya kawasan perkotaan di sekitar Desa Lengkong, lahan pertanian aktif semakin terbatas dan tersebar di beberapa lokasi sehingga diperlukan observasi serta koordinasi yang matang.

Selain pemasangan perangkat, kegiatan ini juga diisi dengan edukasi dan pendampingan kepada masyarakat agar dapat memahami cara kerja sistem serta memanfaatkan data yang dihasilkan secara optimal. Dalam jangka panjang, teknologi ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi penggunaan air, mendukung pengambilan keputusan berbasis data, serta memperkuat literasi digital masyarakat di sektor pertanian.

Ke depan, Universitas Telkom berharap program ini menjadi langkah awal pengembangan pertanian berbasis teknologi di Desa Lengkong. Sistem monitoring yang telah diterapkan diharapkan dapat terus disempurnakan sesuai kebutuhan masyarakat dan menjadi fondasi kolaborasi berkelanjutan antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat dalam mendorong inovasi untuk kemajuan sektor pertanian dan pembangunan desa secara umum.

Melalui kolaborasi tersebut, teknologi tidak lagi menjadi sesuatu yang jauh dari kehidupan petani. Sebaliknya, teknologi hadir sebagai solusi nyata yang membantu meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan kesejahteraan masyarakat desa di era digital.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *