MCI – Gunungkidul, DIY | Gerakan Ingat Selamat Layar Indonesia (GISLI) kembali mendorong penguatan keselamatan nelayan di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Melalui program Fisherwomen as Agents of Change (FAOC) 2, GISLI melibatkan nelayan dan perempuan nelayan dalam upaya membangun budaya keselamatan sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi keluarga pesisir.
Kegiatan tersebut digelar di Pendopo Pantai Baron, Gunungkidul, Selasa (29/9/2026), dengan melibatkan sekitar 100 peserta. Dalam salah satu rangkaian kegiatan, sebanyak 50 nelayan dan 50 istri nelayan asal Kalurahan Kemadang, Kapanewon Tanjungsari, mengikuti Bimbingan Teknis Standar Kecakapan Nelayan (SKN).
Tim Acara GISLI, Orima Melati Davey, mengatakan keselamatan nelayan tetap menjadi fokus utama dalam program FAOC. Namun, menurutnya, keterlibatan perempuan dalam keluarga nelayan juga penting untuk memastikan kebiasaan keselamatan diterapkan sebelum nelayan berangkat melaut.
Perempuan nelayan dinilai dapat berperan sebagai safety reminder atau pengingat keselamatan bagi suami, anak maupun anggota keluarga yang bekerja sebagai nelayan.
“Yang kita promosikan tetap keselamatan dan keamanan nelayan. Namun, praktiknya kami juga menggerakkan ibu-ibu sebagai pengingat keselamatan, sehingga sebelum melaut mereka bisa mengingatkan, misalnya jangan lupa menggunakan jaket keselamatan dan memastikan perlengkapan lainnya,” jelas Orima.
Pemberdayaan perempuan, lanjut Orima, tidak berhenti pada peran sebagai pengingat keselamatan. GISLI juga memberikan ruang bagi perempuan nelayan untuk meningkatkan kapasitas ekonomi melalui pelatihan kewirausahaan dan pemasaran digital.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, perempuan nelayan mendapatkan materi mengenai pengembangan usaha, pemasaran digital produk, serta kewirausahaan. Materi tersebut diharapkan dapat membantu perempuan yang telah memiliki usaha, seperti warung maupun produk olahan hasil perikanan, agar mampu mengembangkan usahanya secara lebih optimal.
Program FAOC dilatarbelakangi tingginya kerentanan nelayan tradisional terhadap perubahan kondisi laut dan cuaca. Perubahan iklim turut memengaruhi pola migrasi ikan sehingga nelayan berpotensi harus melaut lebih jauh. Kondisi tersebut membuat aspek keselamatan, kesiapan kapal, serta kelengkapan peralatan menjadi semakin penting.
Kasat Polairud Polres Gunungkidul AKP Wawan Anggoro, yang menjadi salah satu narasumber dalam kegiatan tersebut, menekankan pentingnya persiapan sebelum nelayan berangkat melaut.
Ia mengingatkan nelayan agar memperhatikan kondisi cuaca serta memeriksa kapal, mesin, badan kapal, dan muatan. Selain itu, kelengkapan administrasi dan peralatan keselamatan juga harus dipastikan tersedia.
“Persiapan yang dipergunakan harus diperhatikan, berkaitan dengan cuaca, kemudian cek kapal, surat-surat, mesin, badan kapal dan muatan. Nelayan juga wajib membawa pelampung atau jaket keselamatan, lifebuoy, alat pemadam api, senter, peluit, kotak P3K dan perlengkapan lainnya,” ujar Wawan.
Menurut Wawan, perhatian terhadap keselamatan menjadi semakin penting karena aktivitas nelayan Gunungkidul berhadapan langsung dengan perairan Samudra Hindia yang memiliki karakteristik dan risiko tersendiri.

Ia menyambut positif kegiatan GISLI karena program tersebut tidak hanya menyasar nelayan, tetapi juga melibatkan keluarga, khususnya istri nelayan yang memiliki peran dalam pengolahan dan pemanfaatan hasil tangkapan.
“Ini sangat membantu karena tidak hanya sasarannya nelayan, tetapi juga istri-istri nelayan. Ada penguatan berkaitan dengan UMKM dan produksi makanan olahan yang berasal dari hasil tangkapan para nelayan,” katanya.
Orima menambahkan, kegiatan FAOC di Gunungkidul merupakan kelanjutan dari kegiatan sebelumnya yang dilaksanakan pada April 2026. Jika kegiatan pertama lebih menitikberatkan pada pengenalan program dan pemberian materi dasar, kegiatan kali ini diarahkan pada peningkatan kapasitas serta praktik keselamatan.
GISLI berharap program tersebut dapat dilaksanakan secara berkelanjutan melalui pendekatan berbasis komunitas. Organisasi yang terdiri dari kelompok anak muda dan peneliti yang memiliki perhatian terhadap ekonomi biru itu juga berupaya menghubungkan masyarakat pesisir dengan narasumber maupun pemangku kepentingan yang relevan.
“Kami berharap GISLI bisa bertahap membina masyarakat di Gunungkidul, menjadi platform yang menghubungkan narasumber yang relevan untuk mendukung keselamatan dan keamanan nelayan di Indonesia,” kata Orima.
Melalui program tersebut, keselamatan tidak hanya dipandang sebagai kewajiban nelayan ketika berada di laut, tetapi juga sebagai budaya yang dibangun sejak dari keluarga. Perempuan nelayan diharapkan menjadi bagian penting dalam memastikan pesan keselamatan terus diingat sebelum suami, anak, maupun anggota keluarga berangkat mencari nafkah di laut.













