MCI – Yogyakarta, DIY | Suasana Jalan Malioboro tampak berbeda dari biasanya. Pada Kamis, 2 April 2026, ribuan masyarakat memadati kawasan ikonik tersebut untuk merayakan ulang tahun ke-80 Sri Sultan Hamengku Buwono X. Kemeriahan terasa di setiap sudut jalan, berpadu dengan nuansa budaya yang kental dan penuh kebanggaan.
Namun di balik gemerlap perayaan itu, terselip sebuah kisah sederhana yang justru mampu mengetuk hati siapa pun yang mendengarnya.
Di tengah kerumunan, tampak seorang pria mengenakan busana adat Jawa berdiri bersama tiga bapak penarik becak. Sosok tersebut adalah Bambang Setiawan, Lurah Kalurahan Kepek, Wonosari, Gunungkidul. Dengan penuh kehangatan dan tanpa sekat, ia mengajak para tukang becak itu untuk berfoto bersama.
Ajakan sederhana itu rupanya tidak langsung diterima. Salah satu tukang becak tampak ragu, bahkan mencoba menghindar. Dengan suara lirih dan penuh rasa sungkan, ia mengungkapkan isi hatinya,
“Jujur, Mas… kemarin begitu Mbah Lurah mengajak foto bertiga, saya malah ingin menghindar. Kula mung tukang becak, Pak…”
Ucapan itu sederhana, namun penuh makna. Sebuah kalimat yang mencerminkan kerendahan hati, sekaligus rasa minder yang mungkin selama ini dipendam.
Mendengar hal tersebut, Bambang Setiawan tak mampu menyembunyikan rasa harunya. Di tengah perayaan besar yang penuh kemegahan, justru momen itulah yang paling membekas di hatinya.
“Jujur, saya amat terharu. Tapi saya juga tersadar… mereka ini justru layak mendapat apresiasi,” ungkapnya sambil tersenyum hangat.
Senyum itu menjadi penegas bahwa tidak ada perbedaan derajat di antara mereka. Bahwa setiap manusia, apa pun pekerjaannya, memiliki nilai yang sama dan layak dihargai.
Akhirnya, ketiga tukang becak tersebut pun bersedia berdiri berdampingan. Tidak ada lagi rasa sungkan, tidak ada jarak. Hanya ada kebersamaan yang tulus. Momen itu pun diabadikan dalam sebuah foto sebuah potret sederhana yang menyimpan pesan mendalam tentang kemanusiaan.
Di tengah perayaan 80 tahun Sri Sultan Hamengku Buwono X yang penuh kemeriahan, kisah kecil ini justru menjadi pengingat besar. Bahwa di antara gemerlap dunia, ketulusan dan kerendahan hati tetap menjadi nilai yang paling berharga.
Bahwa mereka yang merasa “hanya”, sering kali justru memiliki hati yang paling mulia.
















