MCI – Gunungkidul, DIY | Gelora pelestarian budaya kembali berkobar di Padukuhan Kalangan 2, Kalurahan Ngipak, Kapanewon Karangmojo, Sabtu malam (28/3/2026). Peresmian Sanggar Seni Surya Asmaraloka menjelma menjadi peristiwa penting yang tidak hanya menandai berdirinya sebuah sanggar, tetapi juga menjadi simbol kebangkitan seni budaya di wilayah Gunungkidul.
Puluhan seniman, komunitas, serta elemen masyarakat dari berbagai penjuru Gunungkidul berkumpul dalam satu panggung kebudayaan yang meriah dan penuh makna. Pagelaran spektakuler yang disuguhkan menjadi magnet kuat yang menyedot perhatian publik sekaligus mempertegas posisi sanggar ini sebagai pusat kreativitas baru.
Peresmian ini diprakarsai oleh para pegiat seni lokal yang memiliki visi besar dalam melestarikan budaya tradisional. Ketua Sanggar, Pratisna atau yang akrab disapa Mas Sibagz, mengungkapkan bahwa Sanggar Surya Asmaraloka sejatinya telah berjalan selama dua tahun sebelum akhirnya diresmikan secara resmi.
“Sanggar ini sudah berjalan sekitar dua tahun dengan anggota sekitar 50 anak muda. Kami berharap ini menjadi embrio gerakan budaya yang terus berkembang dan memberi ruang bagi generasi muda,” ujarnya.

Acara berlangsung meriah sejak awal dengan berbagai pertunjukan seni tradisional yang menggambarkan kekayaan budaya lokal. Tarian Sintren, Gambang Suling, Kencana Wingka, hingga Nawung Sekar membuka malam dengan nuansa magis dan penuh filosofi. Suasana semakin hidup dengan penampilan Jaranan, Warok, Ganong, serta Sigrak Wanodyatama yang memukau penonton hingga larut malam.
Lebih dari sekadar hiburan, pagelaran ini menjadi ruang temu lintas komunitas seni. Hadir dalam kesempatan tersebut Kepala Kundha Kabudayan Gunungkidul Agung Danarta, S.Sos., MSE, Panewu Karangmojo Emmanuel Krisno Juwoto, S.Sos, serta Lurah Ngipak Bambang Setiawan, S.Pd.I. Kehadiran tokoh budaya R.M. Kukuh Hertriasning (Ndoro Aning), cucu Sri Sultan HB VIII, semakin menegaskan nilai sakral dan pentingnya momentum ini.
Dalam sambutannya, Agung Danarta menyampaikan apresiasi tinggi atas berdirinya sanggar tersebut. Ia menilai Sanggar Surya Asmaraloka memiliki potensi besar menjadi pusat pengembangan seni budaya di Gunungkidul.
“Ini bukan sekadar peresmian, tetapi langkah besar dalam merangkul seluruh elemen seni budaya. Kami berharap sanggar ini mampu terus berkembang dan memberi dampak nyata,” ungkapnya.
Sementara itu, Ndoro Aning memberikan pesan yang sarat makna dan menjadi sorotan utama malam itu. Ia mengingatkan bahwa semangat pelestarian budaya tidak boleh berhenti pada euforia peresmian semata.
“Jangan hanya menjadi semangat awal saja. Budaya harus dijaga dengan konsistensi, dirawat dengan ketulusan, dan diwariskan dengan kesadaran. Jika tidak, kita hanya akan menjadi generasi yang kehilangan akar,” tegasnya.
Pesan tersebut menjadi refleksi mendalam bagi seluruh hadirin, terutama generasi muda yang menjadi tulang punggung sanggar. Bahwa menjaga budaya bukan sekadar tampil di panggung, tetapi juga tentang komitmen jangka panjang dalam merawat identitas.

Peresmian ini juga dihadiri berbagai komunitas dan sanggar seni dari seluruh Gunungkidul, seperti Sanggar Garaluku Kemadang, Wora-Wori Panggang, Swati Astu Playen, hingga berbagai komunitas kreatif seperti Forum Perupa Gunungkidul, Nglipar Art, dan Petani Punk Gunungkidul. Kehadiran mereka memperlihatkan kuatnya jejaring kolaborasi yang terbangun.
Dengan mengusung semangat “Seni Hidup, Budaya Lestari”, Sanggar Surya Asmaraloka diharapkan mampu menjadi ruang tumbuh bagi generasi muda untuk berekspresi sekaligus menjaga warisan budaya leluhur.
Malam bersejarah itu ditutup dengan prosesi mbabar tumpeng dan pertunjukan seni lanjutan yang berlangsung hingga larut malam. Namun lebih dari itu, peresmian ini meninggalkan pesan kuat: bahwa budaya akan tetap hidup selama ada generasi yang mau menjaga, merawat, dan meneruskannya dengan sepenuh hati.
Sanggar Surya Asmaraloka kini bukan hanya sebuah tempat berkesenian, tetapi telah menjelma menjadi simbol harapan bahwa dari Karangmojo, denyut kebudayaan Gunungkidul akan terus bergema, tak lekang oleh waktu.
















