Puluhan Tosan Aji Dijamas di Kalurahan Gari, Perkuat Identitas Budaya Lokal

Kalurahan Gari bersama Dinas Kebudayaan Gunungkidul menggelar jamasan tosan aji sebagai bagian dari program rintisan Kalurahan Budaya dan pelestarian warisan budaya benda.

MCI – Gunungkidul, DIY | Puluhan koleksi tosan aji milik masyarakat mengikuti kegiatan jamasan pusaka atau jamasan tosan aji yang digelar di Kalurahan Gari, Kapanewon Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, Selasa (14/7/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya pelestarian warisan budaya sekaligus penguatan identitas budaya lokal di Kalurahan Gari yang saat ini masuk dalam program rintisan Kalurahan Budaya.

Lurah Gari, Widodo, menjelaskan bahwa pelaksanaan jamasan tosan aji merupakan usulan dari Pemerintah Kalurahan Gari setelah melihat besarnya minat masyarakat terhadap pelestarian pusaka dan benda-benda warisan leluhur yang dimiliki warga setempat.

“Kalurahan Gari saat ini telah masuk dalam rintisan Kalurahan Budaya sehingga salah satu kegiatan yang kami dorong adalah jamasan tosan aji. Kegiatan ini kami laksanakan bersama Dinas Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul melalui fasilitasi Dana Keistimewaan,” ujar Widodo.

Menurutnya, Pemerintah Kalurahan Gari awalnya membatasi peserta sebanyak 40 pusaka atau tosan aji yang akan dijamas. Namun antusiasme masyarakat ternyata jauh melampaui perkiraan sehingga jumlah pendaftar melebihi kuota yang tersedia.

Melihat tingginya minat masyarakat tersebut, Pemerintah Kalurahan Gari berencana memperluas cakupan kegiatan pada tahun mendatang agar semakin banyak kolektor dan pecinta tosan aji dapat terwadahi dalam sebuah organisasi maupun komunitas pelestari budaya.

“Kami ternyata baru mengetahui bahwa di Kalurahan Gari terdapat cukup banyak kolektor dan pecinta tosan aji. Ke depan kami berharap dapat membuka peluang lebih luas sehingga mereka bisa terwadahi dalam satu organisasi dan dapat melakukan berbagai kegiatan pelestarian budaya secara bersama-sama,” katanya.

Widodo menambahkan, kegiatan jamasan tosan aji diharapkan mampu memetakan jumlah kolektor pusaka yang ada di Kalurahan Gari sekaligus menjadi salah satu kekhasan budaya yang dimiliki wilayah tersebut.

BACA JUGA :  https://mediacitraindonesia.com/pengadaan-seragam-smp-di-gunungkidul-jadi-sorotan-disdik-tegaskan-sekolah-tidak-boleh-terlibat/

Sementara itu, Kepala Seksi Warisan Budaya Benda Dinas Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul, Eddy Sarjono, menjelaskan bahwa kegiatan jamasan tosan aji merupakan agenda rutin tahunan Dinas Kebudayaan yang didukung melalui Dana Keistimewaan DIY.

Pada tahun 2026, Dinas Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul menyiapkan sepuluh paket kegiatan jamasan yang akan dilaksanakan di berbagai wilayah di Kabupaten Gunungkidul.

“Kegiatan pertama dilaksanakan pada 9 Juli 2026 di tingkat kabupaten setelah Keraton Yogyakarta melaksanakan jamasan pusaka keraton pada 7 Juli. Sebagai Kabupaten Pusaka, pelaksanaan jamasan pusaka kabupaten memang dilakukan setelah prosesi di Keraton selesai dilaksanakan,” jelas Eddy.

Prosesi jamasan tingkat kabupaten tersebut dipimpin langsung oleh Bupati Gunungkidul dan diikuti oleh pusaka milik pemerintah daerah, kapanewon, UPT, serta masyarakat umum. Tingginya antusiasme masyarakat bahkan membuat jumlah pusaka yang dijamas mencapai 70 hingga 80 bilah, melebihi kapasitas yang telah disiapkan panitia.

“Kami sebenarnya membatasi jumlah pusaka yang dijamas karena proses pengeringan membutuhkan waktu cukup lama. Namun karena masyarakat datang dari berbagai daerah dan antusiasmenya sangat tinggi, kami tetap berupaya melayani semaksimal mungkin,” ungkapnya.

Setelah pelaksanaan di Kalurahan Gari, rangkaian kegiatan jamasan tosan aji akan dilanjutkan di sejumlah lokasi lain di Kabupaten Gunungkidul, di antaranya Kalurahan Jepitu, Pulutan, Piyaman, Wonosari, dan wilayah lainnya.

Eddy berharap semakin banyak masyarakat yang berperan aktif dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya, baik yang bersifat benda maupun tak benda.

“Tosan aji bukan hanya sekadar benda pusaka, tetapi juga bagian dari identitas budaya dan sejarah masyarakat. Karena itu, pelestariannya membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat agar warisan leluhur ini tetap terjaga dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *