Media Lokal Dihadapkan Tantangan Era Digital, Kepercayaan Publik Jadi Kunci Keberlanjutan

Workshop di Sleman Soroti Strategi Bertahan dan Berkembang di Tengah Disrupsi Teknologi dan Dominasi Platform Digital

MCI – Sleman, DIY | Perkembangan teknologi digital yang berlangsung sangat cepat membawa perubahan besar terhadap industri media, khususnya media lokal yang kini dituntut mampu beradaptasi dengan pola konsumsi informasi masyarakat yang terus berubah. Di tengah derasnya arus informasi dari berbagai platform digital, media tidak hanya dituntut bergerak cepat, tetapi juga menjaga akurasi, independensi, dan kualitas jurnalistik sebagai fondasi utama kepercayaan publik.

Isu tersebut menjadi fokus utama dalam kegiatan Workshop Media Lokal Berkelanjutan yang digelar di Isvara Riverside, Kabupaten Sleman, pada Rabu (8/7/2026). Kegiatan ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan mulai dari unsur pemerintah, Dewan Pers, hingga praktisi media untuk membahas tantangan sekaligus peluang yang dihadapi media lokal di era transformasi digital.

Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kementerian Komunikasi dan Digital, Farida Dewi Maharani, menjelaskan bahwa kemajuan teknologi telah mengubah secara signifikan cara masyarakat memperoleh dan mengonsumsi informasi.

Menurutnya, jika sebelumnya masyarakat mengandalkan koran, televisi, maupun radio sebagai sumber utama berita, kini berbagai platform digital memungkinkan siapa saja untuk memproduksi, menyebarkan, bahkan mempengaruhi opini publik melalui konten yang mereka buat sendiri.

“Kini hampir setiap orang dapat berperan sebagai pembuat sekaligus penyebar informasi. Perubahan ini membuat pola konsumsi informasi masyarakat juga ikut berubah secara drastis,” ujarnya.

Namun di balik kemudahan akses tersebut, muncul tantangan baru berupa banjir informasi yang belum tentu memiliki dasar fakta yang jelas. Kondisi tersebut membuat masyarakat semakin sulit membedakan mana informasi yang benar, mana yang merupakan hoaks, manipulasi, maupun konten yang sengaja dibuat untuk memancing emosi publik.

Farida menegaskan bahwa dalam situasi seperti ini, media profesional memiliki peran yang semakin penting sebagai penyedia informasi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Menurutnya, persaingan media saat ini tidak lagi sekadar soal siapa yang paling cepat menyampaikan informasi, melainkan siapa yang mampu menjaga kualitas, melakukan verifikasi secara ketat, serta mempertahankan kepercayaan masyarakat.

Ia mengingatkan bahwa algoritma platform digital umumnya lebih mengutamakan konten yang sensasional, kontroversial, dan mampu menghasilkan interaksi tinggi. Oleh karena itu, media harus menentukan arah dan identitasnya sendiri, apakah hanya berorientasi pada jumlah klik atau tetap menjunjung tinggi integritas jurnalistik.

“Kepercayaan publik merupakan modal terbesar yang dimiliki media. Ketika kepercayaan itu hilang, maka loyalitas pembaca juga akan ikut menurun dan keberlanjutan media akan semakin sulit dipertahankan,” tegasnya.

Farida menilai media lokal justru memiliki peluang besar untuk berkembang di tengah perubahan algoritma digital yang kini mulai memberikan ruang lebih luas terhadap konten yang relevan dengan kebutuhan masyarakat di daerah.

Berbeda dengan platform global yang cenderung mengangkat isu nasional maupun internasional, media lokal memiliki keunggulan dalam memahami karakter masyarakat, budaya setempat, hingga persoalan yang terjadi di wilayahnya masing-masing.

Baca juga :  https://mediacitraindonesia.com/on-the-rock-pantai-drini-jadi-daya-tarik-baru-wisatawan-asal-kediri-ajak-masyarakat-nikmati-keindahan-gunungkidul/

Menurutnya, kedekatan dengan masyarakat menjadi kekuatan utama yang tidak dapat dengan mudah ditiru oleh platform digital berskala besar.

Karena itu, pemerintah mendorong media lokal untuk terus memperkuat ruang redaksi, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, mengembangkan distribusi berita melalui berbagai platform digital, sekaligus tetap menjaga profesionalisme dalam menjalankan fungsi jurnalistik.

Di sisi lain, Farida mengakui bahwa industri media saat ini tengah menghadapi tekanan yang semakin berat. Selain perubahan perilaku masyarakat dalam mengakses informasi, media juga harus menghadapi perpindahan belanja iklan ke perusahaan platform digital global serta maraknya informasi tidak terverifikasi yang beredar di ruang digital.

Menurutnya, tantangan tersebut tidak dapat diselesaikan oleh media secara sendiri-sendiri, melainkan membutuhkan kerja sama antara pemerintah, perusahaan media, organisasi pers, hingga insan jurnalistik agar tercipta ekosistem media yang sehat dan berkelanjutan.

Sementara itu, Ketua Komisi Pengaduan dan Penegakan Etika Pers Dewan Pers, Muhammad Jazuli, menegaskan bahwa transformasi digital tidak boleh mengikis nilai-nilai dasar jurnalistik yang selama ini menjadi pembeda antara media profesional dengan media sosial.

Ia menjelaskan bahwa media memiliki mekanisme pengawasan yang jelas mulai dari Undang-Undang Pers, Kode Etik Jurnalistik, proses penyuntingan, hingga sistem pertanggungjawaban kepada publik apabila terjadi kesalahan dalam pemberitaan.

Hal tersebut, menurutnya, merupakan kekuatan yang tidak dimiliki oleh sebagian besar platform media sosial yang peredarannya nyaris tanpa batas dan tanpa mekanisme verifikasi yang memadai.

“Media harus mampu memelihara nilai-nilai lama yang baik sambil mengadopsi teknologi baru. Jangan sampai perkembangan teknologi justru menghilangkan tanggung jawab jurnalistik kepada masyarakat,” katanya.

JaZuli juga mengungkapkan bahwa Dewan Pers masih menerima berbagai pengaduan dari masyarakat terkait pemberitaan maupun penyalahgunaan profesi wartawan. Oleh sebab itu, ia mendorong seluruh insan pers untuk mengembangkan konsep jurnalisme positif yang tidak hanya mengangkat persoalan, tetapi juga menghadirkan solusi serta mempertimbangkan dampak sosial dari setiap informasi yang dipublikasikan.

Menurutnya, setiap berita yang dipublikasikan harus memberikan manfaat bagi masyarakat dan tidak menimbulkan kerugian yang lebih besar.

Workshop tersebut diharapkan mampu menjadi ruang pembelajaran sekaligus penguatan kapasitas bagi media lokal agar tetap mampu bertahan, berkembang, dan menjaga profesionalisme di tengah perubahan lanskap media yang semakin dinamis.

Dengan kualitas jurnalistik yang terjaga dan kepercayaan publik yang terus dipertahankan, media lokal diyakini akan tetap menjadi salah satu pilar penting demokrasi serta sumber informasi terpercaya bagi masyarakat di era digital.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *