MCI – Srandakan, Bantul | Padukuhan Gunungsaren Lor, Trimurti, Srandakan — Kapanewon Srandakan, Bantul menjadi lokasi pelatihan pembuatan pupuk organik cair (POC) berbahan limbah tahu yang digelar oleh mahasiswa KKN Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Kegiatan yang berlangsung pada Kamis (11/12/25) ini bertujuan memberikan solusi pengelolaan limbah sekaligus meningkatkan produksi tanaman warga dengan cara yang murah, aman, dan ramah lingkungan.
Pelatihan dipandu langsung oleh anggota tim KKN Eva Fatma Riana Dewi, Arifa Dwi Utami, Adelita Azahra, Rangga Adi Saputra, Rofiah Baghiz, Muhammad Naufal Yudha Faris Fadhiilan, Salsabila Arizki, Nur Aida Rahma, dan Aditya Putra Pratama di bawah bimbingan ketua kelompok Dwi Septiawan. Mereka menjelaskan secara rinci tahapan pengolahan limbah tahu menjadi pupuk cair yang mudah dipraktikkan oleh masyarakat.

Dalam pemaparannya, mahasiswa memperkenalkan bahan utama yang digunakan, yakni limbah tahu 1,7 liter, molase 300 ml, serta starter fermentasi 150 ml. Warga juga dikenalkan pada berbagai jenis starter fermentasi seperti air bekas cucian beras, EM4, Trichoderma, Gliocladium, hingga Rhizobium yang berfungsi mempercepat penguraian limbah tahu.
Demonstrasi pembuatan dilakukan secara langsung oleh mahasiswa KKN. Prosesnya dimulai dengan mencampurkan molase dan starter ke dalam limbah tahu hingga merata, kemudian dimasukkan ke jerigen tertutup rapat untuk difermentasi selama 7–14 hari. Setiap hari, tutup jerigen dibuka untuk membuang gas agar fermentasi berjalan optimal. Setelah matang, POC memiliki warna coklat kehitaman dengan aroma khas.
Mahasiswa juga turut menyampaikan cara penggunaan POC untuk tanaman. Cukup mencampurkan 5–10 tutup botol POC ke dalam 1 liter air, lalu menyiramkannya pada pagi hari pukul 06.00–07.00. Penggunaan dapat dilakukan setiap hari atau dua hari sekali. Metode ini dinilai lebih ekonomis dibanding pupuk kimia yang harganya terus meningkat.
Ketua KKN Gunungsaren Lor, Dwi Septiawan, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud pengabdian mahasiswa kepada masyarakat. “Kami berharap warga dapat mempraktikkan pembuatan POC secara mandiri. Limbah tahu yang sebelumnya terbuang kini bisa diolah menjadi pupuk yang bermanfaat tanpa mencemari lingkungan,” ujarnya.

Warga terlihat sangat antusias mengikuti sesi diskusi, ditandai dengan banyaknya pertanyaan terkait teknik dan aplikasi POC. Mereka menilai inovasi ini relevan dengan kebutuhan masyarakat yang memiliki banyak tanaman hias dan pekarangan. Bahan yang mudah didapat membuat warga optimistis dapat memproduksi POC secara berkelanjutan.
Dengan terlaksananya kegiatan ini, mahasiswa KKN UNY berhasil memberikan perubahan positif bagi masyarakat Gunungsaren Lor. Tidak hanya mengurangi limbah organik, program ini juga mendorong penerapan pertanian ramah lingkungan. Melalui inovasi sederhana tersebut, KKN UNY kembali menunjukkan perannya sebagai agen perubahan yang mengedukasi dan memberdayakan masyarakat.













