MCI – Gunungkidul, DIY | PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) bersama PT PLN (Persero) memperkuat pengembangan energi hijau berbasis masyarakat melalui digitalisasi rumah bibit biomassa di Kalurahan Gombang, Kapanewon Ponjong, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Program kolaborasi Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) bertajuk Electrifying Agriculture tersebut resmi dijalankan Kamis (7/5/2026) sebagai langkah modernisasi pembibitan tanaman energi berbasis teknologi digital untuk mendukung cofiring PLTU dan penguatan ekonomi desa.
Sekretaris Perusahaan PT PLN Energi Primer Indonesia, Mamit Setiawan mengatakan, program ini menjadi bagian dari pengembangan sistem pertanian terpadu tanaman energi yang dijalankan PLN EPI dalam mendukung transisi energi nasional dan pengurangan emisi karbon.
“Program ini dirancang untuk mendorong modernisasi sektor pembibitan berbasis masyarakat melalui pemanfaatan energi listrik dan teknologi digital sehingga lebih efisien, produktif, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Dalam program tersebut, PLN EPI menerapkan sistem penyiraman otomatis berbasis Internet of Things (IoT) yang memungkinkan proses perawatan bibit dilakukan secara terjadwal dan dikendalikan melalui ponsel pintar.

Teknologi tersebut dinilai mampu meningkatkan efisiensi penggunaan air, mengurangi pekerjaan manual petani, serta menjaga kualitas bibit agar lebih optimal.
Rumah bibit yang dikembangkan memproduksi tanaman energi seperti indigofera dan kaliandra yang nantinya dimanfaatkan sebagai biomassa campuran batu bara dalam skema cofiring PLTU. Langkah ini menjadi bagian dari strategi pengurangan emisi gas rumah kaca sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Program Electrifying Agriculture di Kalurahan Gombang sendiri telah berjalan sejak 2023 dan dikelola oleh Gapoktan Tani Mulya. Selain dukungan instalasi listrik, kelompok tani juga mendapatkan pelatihan pengelolaan rumah bibit modern berbasis digital.
Panewu Ponjong, Asih Tri Wahyuni menilai program tersebut sangat relevan dengan kondisi wilayah Gunungkidul yang didominasi lahan kering dan kawasan kritis sehingga membutuhkan inovasi dalam pengelolaan pertanian.
“Pendampingannya tidak hanya berhenti pada program, tetapi juga sampai masyarakat mampu mandiri mengelola rumah bibit,” katanya.
Menurutnya, manfaat program mulai dirasakan masyarakat. Selain menjadi tanaman energi, daun indigofera kini juga dimanfaatkan warga sebagai bahan pewarna alami untuk produk eco print.
Sementara itu, Manager PLN UP3 Jogja dan Wonosari, Agung Pratomo menyebut pengembangan biomassa berbasis masyarakat menjadi bentuk kolaborasi nyata dalam menjaga keberlanjutan energi nasional.
“Tanaman energi ini nantinya digunakan sebagai campuran bahan bakar batu bara di PLTU melalui cofiring. Jadi masyarakat ikut berkontribusi dalam menjaga keberlanjutan energi,” ujarnya.
Ketua Gapoktan Tani Mulya Kalurahan Gombang, Satiman mengaku program tersebut membawa dampak langsung bagi kelompok tani.

Perangkat monitoring digital dan instalasi listrik program Electrifying Agriculture PLN EPI memudahkan pemeliharaan bibit secara terjadwal melalui ponsel.
“Dengan adanya sistem listrik dan digital ini, pengelolaan rumah bibit menjadi jauh lebih mudah dan efisien. Kami juga lebih yakin dalam menghasilkan bibit yang berkualitas, sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan bagi anggota kelompok,” katanya.
PLN EPI mencatat rumah bibit di Gombang memiliki kapasitas dukungan hingga 25 ribu bibit tanaman multifungsi dan biomassa. Selain mendukung cofiring PLTU, program ini juga diarahkan untuk penghijauan dan penguatan ekonomi masyarakat lokal.
Melalui pendekatan berbasis Environmental, Social, and Governance (ESG), PLN EPI menegaskan komitmennya tidak hanya pada pengurangan emisi dan keberlanjutan lingkungan, tetapi juga pemberdayaan masyarakat desa melalui teknologi dan tata kelola modern.
Dari desa di Gunungkidul, PLN EPI mendorong lahirnya ekosistem energi masa depan yang mandiri, berkelanjutan, sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.














