MCI – Yogyakarta, DIY | Upaya peningkatan kualitas pelatih Bio Energy Power (BEP) terus diperkuat melalui kegiatan Peningkatan Kualitas Pelatih (PKP) yang digelar di PSKK (MDKIK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Jumat (23/1/2026). Kegiatan ini secara khusus membedah model aliran napas segitiga BEP sebagai bagian dari pengembangan Olah Napas dan Olah Gerak (ON-OG) berbasis riset ilmiah.
PKP menghadirkan Ketua Perkumpulan Komunitas Bio Energy Power Seluruh Indonesia (PKBSI), Prof. Dr. Ir. Suhariningsih, sebagai pembicara utama. Dalam paparannya yang bertajuk “Rahasia di Balik Olah Napas Segitiga BEP”, ia menyampaikan hasil serangkaian penelitian yang bertujuan meningkatkan efektivitas pelaksanaan BEP di lapangan.
Kegiatan ini digelar sebagai respons atas masih beragamnya pemahaman, persepsi, serta kemampuan teknis para pelatih BEP di berbagai daerah. Melalui forum PKP, PKBSI mendorong penyamaan visi, peningkatan kompetensi, serta standarisasi metode pelatihan agar BEP dapat diterapkan secara lebih efektif, aman, dan berdaya guna.
Prof. Suhariningsih menjelaskan bahwa Bio Energy Power merupakan perpaduan olah napas dan olah gerak yang berlandaskan filosofi self healing, yakni keyakinan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk membantu proses penyembuhan dirinya sendiri. Secara ilmiah, teknik BEP terbukti mampu meningkatkan kadar oksigen dalam darah, metabolisme tubuh, serta daya tahan fisik.

BEP sendiri merupakan metode yang telah memiliki legalitas resmi, baik Hak Merek maupun Hak Cipta Koreografi. Metode ini dikembangkan secara nasional oleh Yayasan Bio Energy Power Indonesia (YBEPI) yang mendapat mandat langsung dari penciptanya, Harry J. Angga. Dalam perjalanannya, YBEPI membentuk PKBSI sebagai wadah resmi koordinasi komunitas BEP di seluruh Indonesia.
PKBSI juga telah melakukan berbagai penelitian ilmiah terkait ON-OG BEP, termasuk pengukuran energi yang dikeluarkan dan dihasilkan dalam 30 seri gerakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa BEP dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah sebagai senam terapi yang mampu meningkatkan keseimbangan energi tubuh serta kesejahteraan fisik, mental, dan sosial, khususnya bagi lansia.
Salah satu peserta PKP, Dr. Drs. Sumaryadi, M.Pd., Ketua Rumah Sehat Ikatan Keluarga Pensiunan Universitas Negeri Yogyakarta (rS IKAPEN UNY), menyambut positif kegiatan ini. Menurutnya, PKP merupakan langkah penting dalam meningkatkan kualitas pelatih sekaligus menyeragamkan pemahaman dan teknis pelaksanaan BEP di lapangan.
“PKP ini sangat penting karena kualitas pelatih memang harus ditingkatkan dan diseragamkan. Selama ini masih ada perbedaan persepsi, pemahaman, dan kemampuan teknis. Materi yang disampaikan Ketua PKBSI Pusat hari ini merupakan upaya pengembangan agar pelaksanaan BEP di mana pun bisa lebih berhasil dan berdaya guna,” ujarnya.
Sumaryadi menjelaskan, meskipun penyeragaman substansi ON-OG BEP diperlukan, setiap rumah sehat (rS) tetap perlu diberi ruang untuk menyesuaikan pelaksanaannya dengan konteks dan kondisi peserta. Ia mencontohkan, pelaksanaan seri BEP tanpa jeda atur napas dari seri 1 hingga seri 6 dinilai terlalu berat bagi peserta lansia.
“Di rS kami dan beberapa rS yang seide, kami tetap memberikan jeda atur napas pada setiap pergantian seri. Hasilnya, peserta merasa lebih nyaman, menikmati, dan tidak ngos-ngosan,” imbuhnya.
Selain itu, di beberapa rS, senam BEP juga dikolaborasikan dengan Jalan Nordik (JN) dengan urutan peregangan – JN – istirahat minum – BEP. Jalan Nordik difungsikan sebagai pemanasan sekaligus olah gerak bagian perut ke bawah, sementara BEP menjadi puncak latihan ON-OG yang mengolah bagian perut ke atas dengan stimulasi titik-titik akupunktur.

Meski demikian, Sumaryadi menekankan pentingnya penelitian lanjutan, termasuk penelitian yang mampu mengkuantifikasi variabel kualitatif seperti rasa senang, puas, dan bahagia peserta. Menurutnya, jeda atur napas, tepuk tangan, maupun kolaborasi BEP dengan JN bisa saja berkontribusi pada peningkatan kenyamanan dan relaksasi peserta.
“Penelitian jangan berhenti di satu titik. Variabel kebahagiaan dan kepuasan peserta juga penting untuk dikaji. Bisa jadi jeda tertentu justru membuat peserta lebih rileks dan nyaman mengikuti senam BEP,” tambahnya.
Ia juga mengingatkan agar setiap hasil penelitian tidak langsung diterapkan tanpa melalui pembahasan dan diskusi bersama melalui mekanisme organisasi yang berwenang, sehingga dapat melahirkan kurikulum yang seragam dari pusat dan diterapkan secara nasional.
Melalui kegiatan PKP ini, PKBSI menegaskan komitmennya untuk membangun komunitas BEP yang cerdas dan bermartabat, tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga menjunjung tinggi nilai moral, etika, serta tanggung jawab ilmiah demi peningkatan derajat kesehatan masyarakat Indonesia.















