Pameran “Petak Umpet Sastra Anak” Resmi Ditutup

Kolaborasi Pemerintah dan Komunitas Tegaskan Komitmen Bangun Ekosistem Sastra Anak di Yogyakarta

MCI – Yogyakarta, DIY |Pameran Arsip dan Ilustrasi “Petak Umpet Sastra Anak” yang digelar di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) sejak 7–16 November 2025 resmi ditutup pada Minggu (16/11). Selama sepuluh hari, program ini menjadi pusat kegiatan literasi anak yang mempertemukan anak-anak, orang tua, pendidik, ilustrator, hingga pegiat literasi dalam satu ruang edukatif dan inklusif.

Penutupan pameran juga menjadi penegasan peran Yogyakarta sebagai kota yang aktif mengembangkan sastra anak melalui kolaborasi lintas lembaga. Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta turut menjadi mitra dalam penyelenggaraan kegiatan, memperkuat komitmen pemerintah dalam memperluas akses literasi sejak dini.

Ragam Program Edukatif untuk Semua Kalangan

Pameran yang berfokus pada arsip dan ilustrasi sastra anak ini menghadirkan rangkaian kegiatan tematik, di antaranya permainan detektif “Melacak Jejak Sersan Grung-Grung”, diskusi sastra, bedah buku, baca senyap, tur pameran, lokakarya bercerita, hingga Book Play Date. Kegiatan tersebut dirancang tidak hanya untuk menghibur, tetapi juga menumbuhkan imajinasi, kemampuan membaca, serta kedekatan anak dengan karya sastra.

BBY melalui program ini mengajak publik untuk tidak sekadar membaca buku anak, tetapi juga menghayati dan mengalami proses kreatif di baliknya. Arsip dan ilustrasi yang ditampilkan menjadi pintu masuk untuk memahami bagaimana karya sastra dapat membentuk karakter dan nalar kritis anak sejak usia dini.

Baca juga :  https://mediacitraindonesia.com/haul-ambar-polah-ke-7-nyanyian-rakyat-seniman-jogja-bersatu-merawat-warisan-kreativitas-dan-suara-perjuangan/

Diskusi Penutup: Ragam Tema Sastra Anak

Pada hari terakhir pameran, digelar diskusi bertajuk “Keragaman Tema dalam Sastra Anak” yang menghadirkan Prof. Dr. Aprinus Salam, M.Hum., serta pegiat literasi anak CMID Yogyakarta, Hanie Maria, dengan moderator Ni Made Purnamasari. Diskusi menyoroti semakin luasnya tema yang diangkat dalam sastra anak, dari kehidupan sehari-hari hingga isu kebudayaan dan lingkungan.

Dua pemenang kompetisi Bahasa dan Sastra Kota Yogyakarta, Farranisa dan Aleser Gahizar Althaf, turut menampilkan pembacaan puisi dan geguritan. Farranisa membaca puisi “Selamat Pagi Indonesia” karya Sapardi Djoko Damono, sementara Aleser membawakan geguritan “Ibu” karya Margareth Widy Pratiwi. Penampilan keduanya menunjukkan bahwa ruang berekspresi bagi penulis cilik di Yogyakarta semakin terbuka.

Komitmen Pemerintah Perkuat Literasi Anak

Kepala Seksi Bahasa dan Sastra Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Ismawati Retno, menegaskan bahwa pameran ini menjadi bagian dari langkah berkelanjutan pemerintah kota dalam membina sastra anak.

“Kolaborasi pada agenda ini sangat positif dalam rangka pembinaan dan pengembangan bahasa dan sastra di Kota Yogyakarta. Melalui kerja sama ini, kami berharap sastra anak dapat menjadi pintu pembuka bagi pendidikan karakter, literasi, dan ekspresi anak-anak sejak dini,” ujarnya.

Penguatan Ekosistem Literasi

Melalui kemitraan antara lembaga budaya, komunitas literasi, dan pemerintah daerah, pameran “Petak Umpet Sastra Anak” menjadi bukti bahwa ekosistem sastra anak di Yogyakarta terus berkembang. Kolaborasi ini diharapkan dapat melahirkan lebih banyak program literasi untuk mendukung tumbuhnya generasi pembaca dan kreator kecil yang imajinatif serta berdaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *