MCI – Kulon Progo, DIY | Chesta Aqeela Nurrayyan, pelajar kelas XII SMAIT Abu Bakar Wates, Kulon Progo, menggelar bedah buku karyanya berjudul Terralogika di Terraskota Coffee and Kitchen, Wates, Minggu (14/12/2025). Kegiatan ini menjadi bukti bahwa pelajar yang menekuni dunia tulis-menulis sejak SMP mampu menghasilkan karya literasi yang bernilai dan inspiratif.
Bedah Buku Terbuka untuk Pelajar dan Komunitas Literasi
Acara bedah buku menghadirkan Moh. Mursyid, S.I.P., M.A., dosen Universitas Islam Mulia Yogyakarta, sebagai pembedah. Forum literasi tersebut diikuti oleh pelajar SMA, mahasiswa, guru, serta pemerhati dunia kepenulisan.

Buku Terralogika lahir dari proses panjang Chesta sejak SMP. Kebiasaan membaca, berorganisasi, dan kegemarannya menulis menjadi fondasi utama. Dalam buku ini, Chesta menuangkan refleksi tentang idealisme, logika, keyakinan, kejujuran, dan kegelisahan generasi muda dalam menghadapi realitas sosial.
“Saya menulis sejak SMP bukan untuk merasa paling mampu, tapi untuk belajar memahami hidup melalui tulisan. Semoga buku ini memotivasi teman-teman muda agar berani menuangkan gagasan menjadi karya,” ujar Chesta.

Meski ditulis oleh seorang pelajar SMA, Terralogika dinilai memiliki bobot pemikiran yang matang dan kritis. Karya ini lahir dari refleksi mendalam, termasuk saat penulis berada dalam kondisi sakit akibat kecelakaan lalu lintas.
Wakasek Bidang Kesiswaan Apresiasi Ketekunan Penulis
Ustadzah Delima, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMAIT Abu Bakar Wates, menyampaikan apresiasi tinggi terhadap karya dan ketekunan Chesta.
“Kami sangat mengapresiasi karya penulis. Meski dalam kondisi sakit, ia tetap mampu mengeksplorasi pikiran dan menuangkannya menjadi karya bernilai. Para siswa wajib membaca buku ini karena di dalamnya terdapat kaidah pemikiran yang sangat berguna. Semoga pertemuan hari ini menginspirasi kalian semua untuk menulis dan berkarya. SMAIT Abu Bakar mencetak pelajar yang berbakat,” ujar Ustadzah Delima.
Akademisi Soroti Bobot Pemikiran Buku
Dr. Drs. Sumaryadi, M.Pd., menilai Terralogika sebagai hasil perpaduan antara pengalaman jiwa, daya imajinasi, dan kemampuan berpikir kritis.

“Buku ini menunjukkan keberanian Chesta mengeksplorasi kesenjangan antara idealitas dan realitas. Tulisan ini sarat refleksi dan mampu menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk berpikir kritis dan jujur dalam menyampaikan gagasan,” ujarnya.
Sementara itu, pembedah buku Moh. Mursyid, S.I.P., M.A., menegaskan bahwa usia muda bukan penghalang untuk berpikir kritis dan menyampaikan gagasan. Ia mengapresiasi keberanian penulis menyuarakan kegelisahan generasi muda secara jujur dan reflektif.
Dorong Budaya Literasi di Kalangan Pelajar
Bedah buku Terralogika diharapkan mendorong tumbuhnya budaya membaca, menulis, dan berpikir kritis di kalangan pelajar, sekaligus memperkuat peran sekolah dalam mendukung lahirnya generasi muda kreatif dan berprestasi.













