Pembukaan Cupu Panjala 2025 di Gunungkidul: 34 Simbol Muncul dari Singep, Sarat Makna Mistis dan Budaya

Ritual adat di Kalurahan Girisekar, Panggang, kembali menyedot perhatian ratusan warga. Tahun ini, 34 simbol unik muncul dari Cupu Kyai Panjala, dipercaya sebagian masyarakat sebagai isyarat kehidupan.

MCI – Gunungkidul, DIY |30 September 2025 – Prosesi pembukaan Cupu Kyai Panjala di Kalurahan Girisekar, Kapanewon Panggang, Kabupaten Gunungkidul, kembali berlangsung khidmat pada Senin (29/09/2025) malam. Tradisi budaya sakral ini berhasil memikat ratusan warga dari berbagai daerah yang rela datang untuk menyaksikan ritual tahunan penuh makna spiritual tersebut.

Acara diawali dengan doa bersama dan kenduri sebagai bentuk ungkapan syukur. Selanjutnya, prosesi inti dilakukan oleh trah keturunan pemangku adat, yakni membuka kain pembungkus atau singep Cupu Panjala. Dari kain tersebut, muncul berbagai simbol dan gambar yang kemudian dibacakan secara resmi di hadapan masyarakat.

Pada tahun ini, tercatat ada 34 simbol yang muncul, masing-masing diyakini memiliki arti tersendiri. Beberapa di antaranya berupa hewan, tokoh pewayangan, benda, tulisan Arab, hingga bentuk pulau. Berikut daftar lengkap simbol Cupu Panjala 2025:

  1. Gambar ayam jantan menghadap barat.
  2. Gambar kepala menghadap timur dan barat, yang ke timur mulutnya terbuka, yang ke barat sedang merokok.
  3. Gambar wayang Narodo.
  4. Gambar kambing menghadap timur.
  5. Gambar pulau Sumatra.
  6. Gambar orang duduk menghadap timur.
  7. Gambar bintang.
  8. Gambar orang duduk menghadap timur.
  9. Gambar gurem atau kutu.
  10. Gambar layangan berekor.
  11. Gambar tikus.
  12. Gambar kepala berjenggot.
  13. Gambar kepala wayang.
  14. Gambar angka tiga.
  15. Gambar wayang Petruk menghadap barat.
  16. Gambar kepala laki-laki dengan ikat kepala.
  17. Gambar orang shalat rukuk menghadap kiblat.
  18. Tulisan Arab huruf Alif.
  19. Gambar kepala singa.
  20. Gambar babi menghadap timur.
  21. Gambar anak menunggang hewan.
  22. Gambar wayang Semar menghadap utara.
  23. Gambar telapak tangan.
  24. Gambar pulau Jawa.
  25. Gambar kepala dengan mata melotot.
  26. Gambar kayon atau gunungan berdiri.
  27. Gambar ikan air.
  28. Gambar anak kecil memakai rok.
  29. Gambar angka tiga.
  30. Gambar perempuan dengan anaknya.
  31. Empat lembar kain basah, sisanya kering.
  32. Cupu Semar Kinandu doyong ke timur.
  33. Cupu Palang Kinantang doyong ke selatan.
  34. Cupu Kenti Wiri doyong ke timur laut.

Munculnya simbol-simbol ini selalu menjadi perhatian masyarakat. Sebagian meyakini gambar-gambar tersebut merupakan pertanda atau ramalan mengenai kehidupan sosial, politik, ekonomi, hingga kondisi alam pada masa mendatang. Misalnya, simbol hewan dianggap sebagai perlambang sifat manusia, sedangkan tulisan Arab diyakini sebagai pengingat spiritual.

Selain dimaknai secara mistis, tradisi ini juga menjadi warisan budaya Jawa yang terus dijaga keberlangsungannya. Bagi masyarakat Girisekar, Cupu Panjala bukan sekadar ritual, tetapi juga sarana menjaga kearifan lokal sekaligus magnet wisata budaya yang mampu menarik perhatian publik setiap tahunnya.

Siap Bayu 🙏 saya buatkan penutup berita yang reflektif dan mengaitkan simbol-simbol Cupu Panjala dengan pesan moral bagi masyarakat Gunungkidul. Tujuannya agar berita lebih kuat nuansa fitur budayanya dan memberi kesan mendalam.

Tradisi pembukaan Cupu Kyai Panjala memang selalu menghadirkan rasa penasaran, baik bagi masyarakat lokal maupun pengunjung dari luar daerah. Namun lebih dari sekadar mencari tanda atau ramalan, simbol-simbol yang muncul bisa dimaknai sebagai cermin kehidupan manusia.

Gambar hewan, tokoh pewayangan, hingga tulisan Arab seakan menjadi pengingat bahwa manusia hidup berdampingan dengan alam, budaya, serta spiritualitas. Ada pesan agar masyarakat senantiasa mawas diri, menjaga keseimbangan, dan tidak terjebak pada keserakahan maupun konflik.

Bagi warga Gunungkidul, ritual ini bukan hanya warisan leluhur, melainkan juga penjaga harmoni sosial. Cupu Panjala mengajarkan bahwa setiap tanda yang hadir adalah ajakan untuk lebih merenungi kehidupan, menjaga hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam sekitar.

Dengan begitu, prosesi Cupu Panjala tidak hanya menjadi tontonan budaya, tetapi juga sumber inspirasi moral yang meneguhkan identitas masyarakat Jawa: hidup selaras, bijak membaca tanda zaman, dan terus melestarikan kearifan lokal untuk generasi mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *